Wednesday, December 17, 2008

Belalang & Anjing

Selalu menginginkan yang lebih. Sudah punya 1, ingin 2. Sudah punya 2, ingin 3. Sudah punya 3, ingin 4. Begitu seterusnya. Apakah ini sifat dasar manusia yang serakah? Ataukah hanya pengaruh dari suatu lingkungan.

Tidak perlu jauh- jauh menunjuk orang lain. Saya sendiri merasakan hal ini. Nah, ini yang menjadi pertanyaan dalam hati saya. Saya ini yang serakah dan merasa selalu kurang atau kehidupan di sekitar saya yang mempengaruhinya. Sejak saya duduk di bangku sekolah, di usia yang kira- kira dimana saya bisa berfikir. Saya selalu menanamkan pada diri saya bahwa saya harus bisa. Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak. Tidak mau tertinggal jauh dari yang lainnya. Mungkin ini adalah sifat dasar. Tapi kesuksesan seorang kawan bisa menjadi pemicu semangat pada diri kita. Mungkin ini yang saya sebut sebagai pengaruh lingkungan.

Hal ini masih saya rasakan sampai duduk dibangku kerja. Saya melihat senior saya yang cukup ahli dalam suatu hal. Dan saya juga harus bisa seperti dia. Walaupun saya tahu itu bukanlah hal mudah. Diperlukan kemauan yang besar dan kerja keras. Tapi mengapa mencapai tujuan itu sangat sulit. Dan kadang berfikir, saya tidak akan bisa menang dari mereka. Tapi ingat, setiap manusia itu punya batasan- batasan kemampuan dan standart atas dirinya.

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, saya menemukan satu dari sekumpulan cerita yang membuat saya berfikir sejenak.

Disini dikisahkan ada seekor belalang, dia pergi untuk mencari makan di suatu daerah yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena ia melihat banyak gudang makanan di sana. Setelah melalui perjalanan jauh, sampailah ia di tempat tujuan. Namun ia dihadang oleh seekor anjing yang mengaku sebagai penjaga pintu gerbang daerah itu. Pertengkaran pun terjadi. Dimana si anjing merasa punya kewajiban menjaga daerahnya dari ancaman siapapun, dan si belalang tetap ingin melanjutkan tujuannya. Kemudian si anjing menawarkan suatu pertandingan. Siapa yang memenangkan pertandingan itu maka dia berhak mengambil keputusan. Pertandingan tersebut adalah siapa yang bisa melompati pagar atau gerbang ini lebih tinggi maka dialah yang jadi pemenang. Dan mereka berdua pun sepakat. Pertandingan pun dimulai. Hasilnya si anjinglah yang menjadi pemenangnya. Dia mengambil start, berlari sangat kencang dan berhasil melompati pagar dengan cukup tinggi. Namun belalang tidak puas dengan begitu saja, karena pertandingan tadi ditentukan oleh si anjing. Agar adil, dia menginginkan diadakan pertandingan lagi, dimana peraturan pertandingan ditentukan olehnya. Si anjing sepakat dan menyetujuinya. Jika aturan anjing, menang kalahnya pertandingan ditentukan oleh siapa yang paling tinggi lompatannya. Dalam pertandingan yang kedua ini pemenang ditentukan oleh berapa kali tinggi badan masing- masing dalam satu lompatan di tempat. Yang paling banyak perkaliannya dialah yang menjadi pemenang. Mereka berdua pun sepakat dan memulai pertandingan. Tak ayal hasilnya tentu saja si belalang menjadi pemenang. Walaupun tinggi lompatan belalang hanya setengah dari lompatan anjing, tapi jika dihitung dari perkalian tinggi badannya, dia lebih banyak. Lompatan belalang bisa mencapai puluhan kali tinggi badannya, sedangkan lompatan anjing hanya 2 atau 3 kali tinggi badannya.

Moral cerita di atas, setiap individu mempunyai standart atas dirinya masing- masing untuk mencapai suatu keberhasilan atau kemenangan. Apakah kita sudah membuat standart atas diri kita? J

Cerita dikutip dari “ Setengah Isi Setengah Kosong”

No comments: